Rabu, 09 Oktober 2019

Alya


(Bunga Terindah Untukku)

****
Hari itu gerimis seakan tak ingin berhenti. Suasana mendung membuat siapapun menggigil kedinginan. Di rumah kecil dari kayu itu terlihat seorang lelaki sedang menyalakan tungku api dan mulai memasukkan satu persatu kayu bakar kering kedalamnya. Seketika asap memenuhi seluruh ruangan didalam rumah kecil itu.
“uhuk...uhuk” astaga den koe lagi ngopo? (kamu lagi ngapain ini) Seru wanita tua berjalan dengan langkah yang lambat datang menghampirinya.
Rumah kecil dari kayu, dan atap dari rumbia itu ditinggali nenek saodah dan cucunya Ardi. Sudah lebih dari tiga bulan Ardi tinggal Bersama neneknya. Pemuda berusia berkepala dua itu datang dari ibu kota hanya untuk tinggal Bersama neneknya. Tidak ada yang tahu apa alasannya datang ke desa itu.
“Mbah... Hahaha saya mau memanaskan air ditungku ini, Apinya tidak mau menyala.” Ardi tersenyum menghampiri sang nenek.
“Kamu itu ya… biar Mbah mu ini saja yang menyalakan apinya? Orang kamu tidak tahu bagaimana caranya kan?”
Nenek Saodah mulai menyalakan api dan sesekali meniup kearah tungku. Ardi berjalan keluar dan kembali duduk didepan beranda rumah, kemudian mulai menikmati dinginnya gerimis dipagi itu. Bilur Air matanya kemudian satu-persatu jatuh membasahi pipinya. Seduhan kopi panas disampingnya sedikitpun tidak tersentuh olehnya. Pria itu mulai menghela napas dan beranjak dari tempat duduknya menemui Wanita tua yang masih ada didapur.
“Ada apalagi den? Apa kamu melihatnya lagi?” tanya nenek Saodah dengan wajah penasaran memegang kedua telapak tangan Ardi yang dingin dan sesekali menyeka air mata sang cucu.
“Tidak… sepertinya dia tidak ingin bertemu, sudah lama aku menunggunya untuk bertemu, dia hanya lewat sekilas saja Mbah”
“Kamu tahu kan den, Dia ingin kamu tidak menunggunya?”
“iya, saya tahu mbah, tapi tak ada salahnya saya memeluknya sekali lagi”
Semilir angin mengibaskan gorden pada jendela bambu dirumah itu. Semua terdiam tanpa ada kata yang terucap.


*****
Gadis berambut Panjang itu berlari diantara kerumunan orang-orang yang ada di pasar. Dia menghantam gerobak sayur didepannya dan seketika semua berantakan dan terpental kesembarang tempat. Wajah ayunya seketika tersulap bertopeng ilusi, matanya agak sayup menghadang kilau mentari, senyum manisnya masih terlihat di wajah manisnya.

 “Neng, gimana nih dagangan saya? Pada hancur semua” Tukang sayur menarik tangannya dan raut wajah kecewa mulai mengeluarkan amarah.
“Neng, gimana nih dagangan saya? Pada hancur semua” Tukang sayur menarik tangannya dan raut wajah kecewa mulai mengeluarkan amarah.
“Aduuh maafkan saya ya pak, saya mah tidak sengaja, emang berapa ganti ruginya?”
“300 ribu!!!”
“Mahal pisan pak, ya udah nih saya kasih 50 ribu saja ya…”
“enak saja, saya yang rugi dong neng”
Gadis itu kembali berlari meninggalkan tukang sayur yang masih dengan wajah kecut dan tak henti melontarkan kata-kata kemarahannya.
Dia adalah Alya, Gadis berambut Panjang, kulit putih pucat, wajah kemayu dan tubuhnya yang mungil serta ramping membuatnya terlihat cantik dimata siapapun. Dia tinggal Bersama neneknya yaitu Saodah. Dia adalah cucu satu-satunya yang dimiliki saodah, Ibu dan Ayah Alya sudah lama meninggal akibat kecelakaan di masa lalu. Gadis itu akhirnya dirawat dan dibesarkan oleh sang nenek.
“Mbah…” Teriak Alya menemui sang nenek yang sibuk dibelakang rumahnya.
“Ada apa toh lia, teriak-teriak”
“Ini nih, mbah… lia dapat bunga melati yang bagus dari ndoro Ratih”
Alya mengeluarkan bunga melati putih dari keranjang bambu yang dibawanya dari rumah Nyonya besar tempat dia bekerja.
Ya sudah, kamu tanam di depan rumah aja
Melati putih ini begitu cantik ya Mbah, Lia sangat menyukai bau dan warnanya
Dia begitu memikat, seakan dia terlihat paling indah dimuka bumi ini
Sekilas nenek Saodah terlihat tersenyum melihat cucu perempuannya yang begitu rupawaan dan begitu lugunya memegang bunga melati ditangannya.


*****
Kala bunga melati sedang mekar, semerbak aroma wangi menyebar, seakan memikat hati ingin menyentuhnya. Bilur hujan membasahi setiap kelopaknya, menjadikan warnanya begitu terlihat sempurna.
Hari itu bertemulah dua insan yang saling mengagumi. Alya jatuh hati pada seorang pemuda dari kota yang begitu menawan dan sangat tampan. Dia adalah Ardi. Semua terjadi begitu saja, gadis desa nan ayu merasakan cinta pertama dalam hidupnya. Matanya terus memandang pesona pujaan hatinya yang berada tidak jauh dari hadapannya dan detakan jantungnya membuatnya bahagia.
Ehem… apa kamu ada perlu dengan saya?
Ah… ti…tidak kok (tersenyum dengan raut wajah mulai merah merona)”
Kamu tinggal di desa inikah?”
iya, saya asli gadis dari desa ini, mas nya dari kota ya?” ucap Alya dengan logat khasnya.
iya, saya sedang liburan ke desa ini, kebetulan saya tinggal ditempat keluarga, dirumah ini, Kamu ada perlu apa ya kemari?”
Oh ndak, Saya mah, itu mau merawat taman dirumah ini
Percakapan keduanya tak terasa semakin panjang dan terasa hangat. Hingga hari menjelang sore. Alya menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap untuk pulang kerumah. Ardi tiba-tiba menghampirinya dan menyarankan agar gadis itu diantarnya. Keduanya berjalan melewati malam yang begitu dingin, lampu-lampu jalan yang remang membuat malam terasa sepi, suara-suara binatang kecil terdengar riuh di sekitaran sawah, angin yang jahil berhembus menerbangkan rambut panjang gadis disamping pemuda itu. Wajah cantik gadis itu membuat hati pemuda yang berjalan bersamanya terasa sakit, dadanya bergejolak tak menentu, suhu badannya semakin hangat. Pria itu jatuh cinta, Ardi jatuh cinta pada Alya. Matanya tidak berhenti menatap kearah gadis itu, melihat senyuman indah dari gadis yang bertubuh kecil itu membuat wajahnya malam itu begitu merona. Dia ingin menyentuh dan memeluknya, gadis itu membuatnya tergila-gila, dan tidak bisa berkata-kata.
Mas… Mas Ardi.” Alya menepuk pundak Ardi, yang jiwanya kosong dan pikirannya larut dengan rasa cinta yang menguasai pikirannya.
“Iya... sudah sampai ya, hahhaa” (Ardi menggaruk kepalanya, dia terlihat malu)
iya sampai disini aja, itu rumah saya sudah dekat, terimakasih sudah mengantar sampai sejauh ini, mas nya mari mampir dulu?”
“Mmm... Tidak terimakasih, ini sudah larut, saya harus kembali”
“Ya sudah, sampai bertemu besok ya mas Ardi, Selamat malam”
“Selamat malam Alya”.


Part 1 Selesai. 😀

           





0 komentar:

Posting Komentar

 

Langkah Kehidupan Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang