(Bunga Terindah Untukku)
Hari
itu gerimis seakan tak ingin berhenti. Suasana mendung membuat siapapun
menggigil kedinginan. Di rumah kecil dari kayu itu terlihat seorang lelaki
sedang menyalakan tungku api dan mulai memasukkan satu persatu kayu bakar
kering kedalamnya. Seketika asap memenuhi seluruh ruangan didalam rumah kecil
itu.
“uhuk...uhuk” astaga den
koe lagi ngopo? (kamu lagi ngapain ini) Seru wanita tua berjalan
dengan langkah yang lambat datang menghampirinya.
Rumah
kecil dari kayu, dan atap dari rumbia itu
ditinggali nenek saodah dan cucunya Ardi. Sudah lebih dari tiga bulan Ardi
tinggal Bersama neneknya. Pemuda berusia berkepala dua itu datang dari ibu kota
hanya untuk tinggal Bersama neneknya. Tidak ada yang tahu apa alasannya datang
ke desa itu.
“Mbah... Hahaha saya mau memanaskan
air ditungku ini, Apinya tidak mau menyala.” Ardi tersenyum
menghampiri sang nenek.
“Kamu itu ya… biar Mbah mu ini saja
yang menyalakan apinya? Orang kamu tidak tahu bagaimana caranya kan?”
Nenek
Saodah mulai menyalakan api dan sesekali meniup kearah tungku. Ardi berjalan
keluar dan kembali duduk didepan beranda rumah, kemudian mulai menikmati dinginnya
gerimis dipagi itu. Bilur Air matanya kemudian satu-persatu jatuh membasahi
pipinya. Seduhan kopi panas disampingnya sedikitpun tidak tersentuh olehnya. Pria
itu mulai menghela napas dan beranjak dari tempat duduknya menemui Wanita tua
yang masih ada didapur.
“Ada apalagi den? Apa kamu melihatnya
lagi?” tanya nenek Saodah dengan wajah penasaran memegang
kedua telapak tangan Ardi yang dingin dan sesekali menyeka air mata sang cucu.
“Tidak… sepertinya dia tidak ingin
bertemu, sudah lama aku menunggunya untuk bertemu, dia hanya lewat sekilas saja
Mbah”
“Kamu tahu kan den, Dia ingin kamu
tidak menunggunya?”
“iya, saya tahu mbah, tapi tak ada
salahnya saya memeluknya sekali lagi”
Semilir
angin mengibaskan gorden pada jendela bambu dirumah itu. Semua terdiam tanpa
ada kata yang terucap.
*****
Gadis
berambut Panjang itu berlari diantara kerumunan orang-orang yang ada di pasar.
Dia menghantam gerobak sayur didepannya dan seketika semua berantakan dan terpental
kesembarang tempat. Wajah ayunya seketika tersulap bertopeng ilusi, matanya
agak sayup menghadang kilau mentari, senyum manisnya masih terlihat di wajah
manisnya.
“Neng, gimana nih dagangan saya? Pada hancur
semua” Tukang sayur menarik tangannya dan raut wajah kecewa mulai
mengeluarkan amarah.
“Neng, gimana nih
dagangan saya? Pada hancur semua” Tukang sayur menarik
tangannya dan raut wajah kecewa mulai mengeluarkan amarah.
“Aduuh maafkan saya ya
pak, saya mah tidak sengaja, emang berapa ganti ruginya?”
“300 ribu!!!”
“Mahal pisan pak, ya udah
nih saya kasih 50 ribu saja ya…”
“enak saja, saya yang rugi
dong neng”
Gadis
itu kembali berlari meninggalkan tukang sayur yang masih dengan wajah kecut dan
tak henti melontarkan kata-kata kemarahannya.
Dia
adalah Alya, Gadis berambut Panjang, kulit putih pucat, wajah kemayu dan
tubuhnya yang mungil serta ramping membuatnya terlihat cantik dimata siapapun.
Dia tinggal Bersama neneknya yaitu Saodah. Dia adalah cucu satu-satunya yang
dimiliki saodah, Ibu dan Ayah Alya sudah lama meninggal akibat kecelakaan di
masa lalu. Gadis itu akhirnya dirawat dan dibesarkan oleh sang nenek.
“Mbah…”
Teriak Alya menemui sang nenek yang sibuk dibelakang rumahnya.
“Ada apa toh lia, teriak-teriak”
“Ini nih, mbah… lia dapat
bunga melati yang bagus dari ndoro Ratih”
Alya
mengeluarkan bunga melati putih dari keranjang bambu yang dibawanya dari rumah
Nyonya besar tempat dia bekerja.
“Ya sudah, kamu tanam di depan rumah aja”
“Melati putih ini begitu cantik ya Mbah, Lia
sangat menyukai bau dan warnanya
Dia begitu memikat, seakan dia
terlihat paling indah dimuka bumi ini”
Sekilas
nenek Saodah terlihat tersenyum melihat cucu perempuannya yang begitu rupawaan
dan begitu lugunya memegang bunga melati ditangannya.
*****
Kala
bunga melati sedang mekar, semerbak aroma wangi menyebar, seakan memikat hati
ingin menyentuhnya. Bilur hujan membasahi setiap kelopaknya, menjadikan
warnanya begitu terlihat sempurna.
Hari
itu bertemulah dua insan yang saling mengagumi. Alya jatuh hati pada seorang
pemuda dari kota yang begitu menawan dan sangat tampan. Dia adalah Ardi. Semua
terjadi begitu saja, gadis desa nan ayu merasakan cinta pertama dalam hidupnya.
Matanya terus memandang pesona pujaan hatinya yang berada tidak jauh dari
hadapannya dan detakan jantungnya membuatnya bahagia.
“Ehem… apa kamu ada perlu dengan saya?”
“Ah… ti…tidak kok (tersenyum dengan raut
wajah mulai merah merona)”
“Kamu tinggal di desa inikah?”
“iya, saya asli gadis dari desa ini, mas nya
dari kota ya?” ucap Alya dengan logat khasnya.
“iya, saya sedang liburan ke desa ini,
kebetulan saya tinggal ditempat keluarga, dirumah ini, Kamu ada perlu apa ya kemari?”
“Oh ndak, Saya mah, itu mau merawat taman
dirumah ini”
Percakapan
keduanya tak terasa semakin panjang dan terasa hangat. Hingga hari menjelang
sore. Alya menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap untuk pulang kerumah. Ardi
tiba-tiba menghampirinya dan menyarankan agar gadis itu diantarnya. Keduanya
berjalan melewati malam yang begitu dingin, lampu-lampu jalan yang remang
membuat malam terasa sepi, suara-suara binatang kecil terdengar riuh di
sekitaran sawah, angin yang jahil berhembus menerbangkan rambut panjang gadis
disamping pemuda itu. Wajah cantik gadis itu membuat hati pemuda yang berjalan
bersamanya terasa sakit, dadanya bergejolak tak menentu, suhu badannya semakin
hangat. Pria itu jatuh cinta, Ardi jatuh cinta pada Alya. Matanya tidak
berhenti menatap kearah gadis itu, melihat senyuman indah dari gadis yang
bertubuh kecil itu membuat wajahnya malam itu begitu merona. Dia ingin
menyentuh dan memeluknya, gadis itu membuatnya tergila-gila, dan tidak bisa
berkata-kata.
“Mas… Mas Ardi.” Alya menepuk pundak Ardi,
yang jiwanya kosong dan pikirannya larut dengan rasa cinta yang menguasai
pikirannya.
“Iya... sudah sampai ya, hahhaa”
(Ardi menggaruk kepalanya, dia terlihat malu)
“iya sampai disini aja, itu rumah saya sudah
dekat, terimakasih sudah mengantar sampai sejauh ini, mas nya mari mampir
dulu?”
“Mmm... Tidak terimakasih, ini sudah
larut, saya harus kembali”
“Ya sudah, sampai bertemu besok ya
mas Ardi, Selamat malam”
“Selamat malam Alya”.
Part 1 Selesai. 😀

0 komentar:
Posting Komentar