Jumat, 08 November 2019

Air Mata Terindah


****AIR MATA TERINDAH****
Hembusan angin yang lembut membangunkan aku pagi ini, tapi susah buatku tuk beranjak dari tempat tidurku yang empuk ini.
“Yerin….. bangun….” Teriak Jessi dari dapur dengan suara parau di pagi hari.
Mendengar suara bagai gelas pecah itu aku melompat dan bangun dari ke empukan kasur yang sudah berwarna kusam itu.


“huaammm… pagi-pagi udah teriak aja… ganggu orang lagi enak mimpi… ” kesalku dengan muka mayun di depan Jessi. Jessi mulai geleng-geleng kepala setelah mendengar cemohanku di pagi yang mendung ini. “Hei.. Rin, kamu gak mimpiin dia lagi kan” Tanya Jessi padaku dengan wajah bingung.
Aku hanya menjawab dengan muka pura-pura tidak tahu, berjalan ke kamar mandi dengan handuk orange yang ada di bahuku. Sahabatku yang satu itu hanya bisa menatapku dengan muka pengen tahu.

***Yerin ***
namaku adalah Yerin. Biasa dipanggil Rin, Sebuah perasaan tak tersampaikan membuat hari-hariku begitu kelabu, kadang masa-mas itu mendebarkan dan juga membuat harapan melayang tinnggi. Aku seorang mahasiswa disebuah kampus di Ibu Kota. Kegiatan sehari-hariku ya kuliah, belajar, nonton dan nongkrong bareng teman, ya seperti hal biasa yang dikerjakan seorang mahasiswa.

Jam sudah menunjukkan bahwa waktunya aku untuk berangkat kuliah. Dengan bergegas dan menyusun perlengkapan yang akan kubawa, tiba-tiba gerimis sudah menjadi hujan yang begitu deras, dengan muka cemas aku mengeluarkan payung pink bergambarkan wajah Doraemon yang bulat kesayanganku. “hmmm.. udah deras nih Rin, gimana kalau kamu naik angkot aja” ucap Jessi padaku seakan ingin membantu dengan wajahnya yang memelas. “iya nih… Jes, spertinya aku naik angkot aja, kamu gak ada kuliah kan hari ini, jadi gantiin aku rapikan kamar ya” dengan wajah memelas aku menatap Jessi. “Oke, Sip deh! Sana gih, nanti telat loh..”  dengan senyumnya yang manis Jessi mengantar aku berangkat kuliah.
Aku berangkat ke kampus sendiri pagi itu dan meninggalkan jessi di apartement yang nampak berantakan itu. Wajah gadis dengan rambut dicepol itu nampak begitu kusut, Dia bergegas kembali kedalam kamar.

Di Halte….
Beberapa menit aku menunggu angkot yang tak kunjung datang, aku mulai mengusap-usap kedua tanganku karena dinginnya hujan mulai terasa menggelitik tubuhku. Berharap cemas aku melirik kiri kananku, memastikan apakah ada angkot atau apapun yang muncul. Tiba-tiba aku dikejutkan sepeda motor yang berhenti di depanku. Aku terkejut ketika melihat seseorang turun dari sepeda motor itu dengan jas hujan yang sudah basah kuyup. “Kevin…”seruku degan suara terkejut.


***Kevin ***
Anak laki-laki dengan gaya rambut tertata rapi dan kulit nya yang bersih, sifatnya yang jutek dan cuek inilah yang membuat jantungku akan berdegup kencang saat bertemu dengannya. Badannya yang tinggi dan otaknya yang lumayan cerdas mampu membuatku takkan berhenti menatapnya dan memikirkannya.
“Uhummm…..” aku terkejut dengan suara deheman Kevin. Tapi aku tidak bisa katakan satu katapun, aku tidak tahu aku akan mulai dari mana dan membahas apa. Degup jantungku berdetak makin cepat seakan rasanya aku akan jatuh pingsan.
“hey… kamu kenapa sih? Apa cuacanya begitu dingin, kok gemetaran gitu?” tiba-tiba saja Kevin diam membatu di depan mataku. “Ah…hahaha iya nih, hujan nya juga deras banget” jawabku dengan wajah tersipu.
Tetes air hujan tak lagi jatuh dari langit, dan awan mulai muncul, seketika langit menjadi cerah. Aku melangkahkan kakiku untuk menghampiri angkot yang sudah mulai tampak dari halte. Aku melihat Kevin yang sudah memakai helm dan menaiki sepeda motornya, dan berharap dia melihat balik kearahku. Tapi sepedamotor itu sudah terlanjur berjalan dengan laju yang begitu cepat.
“huuuf… ”aku hanya bisa menghela napas saja sambil naik angkot yang sudah banyak penumpang itu, bagaimana bisa dia dengan dinginnya meninggalkan diriku tanpa sepatah kata.

Di kampus…
Aku berlari menuju kelas, berharap kali ini aku gak akan telat. Saat aku akan masuk kelas tampak dua orang berjalan dari depanku dengan canda tawa yang bahagia. Ah…itu Kevin dan Dwi, mereka asyik ngobrol dan melewati aku yang diam terpaku sambil berdiri menatap mereka dengan muka bodohku.
“Hey!! Rin….”
Hentakan suara Evelin mengejutkan ku “aih… kamu ni Lin… slalu aja buat aku hampir mati terkejut..” cetusku menjitak Evelin dan menariknya masuk kedalam kelas.
“hey… kamu kenapa? Lagi gak enak badan ya?”Tanya Evelin dengan muka cemas.
“ga tau nih… tiba-tiba aja aku gak ada mood buat belajar..” jawabku dengan muka lemas.
Saat aku masih terbawa perasaan yang hampir membunuhku, Kelas tiba-tiba bagai kapal pecah.
“Rik …. Sini…. Cepat!” Vendra memanggil Rika dari depan pintu ruangan.
Ya… Vendra dan Rika adalah pasangan yang gak ada bosannya gosipin orang yang lagi PDKT lah, soal gebetan orang, cinlok, dan yang berbaur dengan sebuah hubungan percintaan orang lain. Kali ini aku gak tinggal diam, aku mengikuti Rika dari belakang. Wah...salah satu pemandangan terhebat dari kelas ini, hampir setengah dari kami yang sudah siap siaga ditempat buat ngedengerin omongan hangat dari pasangan penggosip ini.

“kali ini kamu punya berita apa lagi Ndra” Ekhsan mulai penasaran.
 “iya… cepat dong… keburu dosen datang” anak-anak lain juga udah gak sabar nungguin berita terhangat dihari ini. Aku hanya duduk diantara mereka sambil senyum manyun dengan muka polos slayaknya seorang anak kecil yang ingin mendengar cerita dongeng dari ibunya.
Rika sudah mengambil posisi nyaman buat bercerita. Ruangan mulai terhanyut dengan gerak-gerik dari Vendra dan Rika.
“tau gak sih?” Rika membuka pembicaraan, “GAK TAU LAH… ikh…” anak-anak yang udah penasaran udah gak sabar dengan cerita dari Rika dan Vendra.
“Gini… aku dengar-dengar sih, katanya Kevin lagi dekat sama seseorang lo?” Vendra bercerita dengan semangat. Aku tiba-tiba terkejut, dan aku mulai penasaran. “lalu..? sama siapa dia dekat? ”cetus Mitha dengan wajah penasaran juga.
“yang aku tahu dia lagi dekat sama cewek jurusan Sastra yang bernama Dwi… aku gak yakin ini benar atau nggak, ya… siapa diantara kalian yang suka sama Kevin, jujur aja mulai dari sekarang, HAHAHHAHA” Rika dan Vendra senyam-senyum melihat muka  anak-anak perempuan yang sudah penasaran apa cerita Vendra dan Rika itu benar atau hanya gossip bohongan saja.
Entah mengapa aku ingin meneteskan air mata, aku terbangun dari duduk ku dan meninggalkan ruangan menuju tempat yang sepi. Aku duduk di bawah pohon yang penuh dengan dedaunan yang jatuh dari rantingnya, berpikir keras dan berharap bahwa ucapan Rika dan Vendra itu hanya bohongan belaka saja. Evelin berlari mengikutiku ketaman. Dia merangkulku dan mengusap usap bahuku seakan dia sudah tahu apa yang sedang kurasakan.
 Ya… memang aku hanya bercerita pada Evelin dan Jessi saja bahwa aku sangat menyukai Kevin dari awal masuk kampus sampai aku semester 4 sekarang. Pertama kali aku mengenal Kevin, saat itulah aku mulai tertarik padanya. saat dia banyak membantuku menyelesaikan tugas-tugas kuliah, dan bercanda dengan Dia. Tapi Kevin gak pernah tahu bagaimana sebenarnya perasaanku padanya. Pernah Kevin selalu menatapku dan selalu mengganguku saat aku sedang sibuk, aku bepikir bahwa Kevin memiliki perasaan yang sama denganku, dan sampai sekarang aku selalu menunggu Kevin mengatakan sesuatu padaku.
Aku selalu berharap padanya dan tak sekalipun aku memandang anak laki-laki lain selain dia. Dan saat itu aku dalam masa penantian.
Dadaku serasa sesak dan aku mulai menangis mengeluarkan semua kepedihan yang kurasakan. Ingin aku berteriak dan melepas semua perasaan yang selama ini sia-sia kupendam dan kujaga.
Evelin mendekapku dalam pelukannya. Sahabatku yang satu ini selalu menjagaku dan memberiku dukungan ketika aku ingin membuang perasaanku selama ini pada Kevin. Aku selalu percaya suatu saat Kevin akan membalas perasaanku, tapi kenyataannya tidak.
Aku mulai menghentikan kesedihanku dan duduk dengan tenang disamping Evelin. Kutatap langit biru dan kupejamkan mataku di iringi hembusan angin yang membuat dadaku yang sesak tenang kembali. Evelin memegang erat tanganku dan berkata “Yerin… gak apa-apa kamu sudah berjuang menjaga perasaanmu untuk dia selama ini, gak apa-apa kamu selalu memandangi dia dari kejauhan berharap dia melihatmu, gak apa-apa kamu selalu melakukan yang terbaik buta dekat sama dia…..” Evelin mulai ikutan menangis dan sesekali mengusap air matanya. “dan kamu gak perlu takut buat jujur padanya, bahwa kamu sangat menyukainya. katakanlah dengan jujur padanya… dan jika memang dia tidak ada rasa padamu.. saat itulah kamu harus hilangin harapanmu untuk balasan cintanya… dan kamu gak akan sakit hati selamanya” tutur Evelin membelai poni yang menutupi mataku yang berair.
Aku memeluk sahabatku itu dan benar-benar bersyukur dia selalu ada buatku. Selalu menemani aku saat aku benar-benar butuh dia. Aku gak bisa katakan apapun selain membalasnya dengan air mata terindah yang menetes dari mataku ini.



===================================================================
***GIVE ME A CHOICE***
“yuhuu……” sorakan anak-anak yang lagi nonton pertandingan futsal di lapangan merusak konsentrasiku yang sedang asyiknya membaca komik Doraemon kesukaanku. Aku berjalan menuju lapangan futsal yang sudah penuh dengan banyak mahasiswa bersorak-sorak memberi dukungan ke pemain, aku melihat Evelin sedang duduk dengan sorakan yang begitu heboh.
“hey… Rin,  kamu darimana aja sih… orang pada ngumpul disini…kamunya malah gak nampak” cetus Evelin sambil menarik aku duduk di sampingnya. “Eh.. ini pertandingan Futsal , kamu kenal siapa aja pemainnya? Soalnya sorakanmu heboh banget…”aku mulai bertanya kepada Evelin dengan wajah lugu yang kupunya.  Evelin membalas nya dengan senyuman sinisnya “ya ampun… gak mungkin cewek secantik aku gak tahu siapa aja cowok keren yang bisa main futsal… apalagi seperti dia” Evelin menunjuk cowok yang familiar dengan gaya dan bentuk tubuh yang bisa membuat semua cewek di kampus ini bakal mati terpana. Ya.. dia adalah Reyhan.

***Reyhan***
Cowok yang satu ini bisa dibilang keren dan cool banget. Habisnya semua yang berbaur tentang dia akan buat semua cewek penasaran. Senyum manis, dan sifatnya yang pendiam dan sedikit cuek ini mampu mematahkan banyak hati wanita. Ya walaupun gak denganku, yang belum bisa melupakan cinta pertamaku yaitu Kevin.
“Ehemm… hey Rin, napa? Kamu tertarik gak sama dia” suara Evelin membangunkanku dari hayalanku.
“Gak ah… ”dengan senyum kecil aku membalas pertanyaan sahabatku itu. Aku gak bisa bilang kalau aku masih belum bisa melupakan Kevin. Aku dan Evelin mulai beranjak dari tempat duduk kami, gak sadar bahwa didepan ku berdiri seorang cowok dengan badan yang lebih tinggi dari aku. “ah…!!!” tiba-tiba Evelin terkejut sambil mencubit kecil tanganku dan melirikku. Aku langsung saja menatap Evelin yang sudah senyum panik, dan saat itu aku menoleh ke orang yang didepanku dan ternyata itu adalah Kevin. “ha..hai… ” Kevin menyapa kami dengan wajahnya yang begitu hangat. Jantungku mulai berdegup kencang lagi, aku mulai gerogi dan entah kenapa aku gak akan pernah bisa membuang Kevin dari pikiranku.
“ah, hai Dik… maaf ya kami buru-buru nih… ada sesuatu yang harus kami kerjakan ” Evelin kemudian menarikku menjauh dari Kevin, aku tahu Evelin gak mau melihat aku berharap lagi pada Kevin. Entah kenapa aku gak tega ninggalin Kevin yang berdiri menatap serius kearahku. “Rin… kamu masih suka gak sama Kevin?” Evelin menghentikan langkahnya dan berbalik kearahku.

“kamu masih gak bisa kan lupain dia?” pertanyaan Evelin membuat dadaku terasa sakit, aku gak bisa bohong dan juga gak bisa jujur padanya. “Evelin yang cantik… sahabatku baik, aku gak bisa jawab pertanyaanmu sekarang, aku lagi berusaha untuk gak mikirin Kevin” aku menatap Evelin dan berusaha membuat dia gak penasaran lagi tentang Kevin. “huuufff… Yerin.. maaf ya aku mungkin terlalu penasaran, soalnya kamu gak bisa terus-terusan di PHP –in sama Dia” dengan cemberut Evelin merangkulku dan membawaku menuju kantin.
                Melupakan seseorang yang benar-benar dicintai mungkin tak semudah yang semua orang pikirkan  yaitu lupakan dia , jangan pernah bertemu dia dimanapun. Itu sama sekali tidak membantu dalam kisah cintaku.
Aku memasuki ruang kelas. Belum aku mulai melangkah Kevin muncul di depanku. Seperti biasa Kevin selalu menyapa dengan kata-kata aneh atau apapun yang membuat orang kadang jengkel dan tertawa.
                ‘Hai Rin’, Kevin menghampiriku.
“Ah, hai juga Dik”  jantungku serasa copot bisa -bisa aku gagal jantung ini.
Belum sempat Kevin melanjutkan kata-katanya Evelin datang menghampiriku dan menarikku dari hadapan KevinKevin hanya diam tak bisa berkata melihat tingkah Evelin yang menghampiriku dengan muka marah.
“Rin, kenapa sih kau tetap saja berurusan sama si Kevin itu?, udah gak peka sama perasaanmu, kamu malah nyakitin dirimu sendiri tau”.
“Bukan begitu Lin, gak mungkin kan aku cuekin dia yang hanya sekedar menyapa saja? Tenang aja aku udah bisa lupain dia kok” Aku merangkul Evelin menenangkan hatinya yang dari tadi kesal dengan raut wajah merah penuh amarah itu.
Musik mengalun lambat di telingaku, membuat hatiku merasa sepi. Aku mulai menarik napas dalam, dan tiba-tiba Indah mengejutkanku.
“Hoi, lagi ngapain Rin?” dengan cengengesan dia membuatku mulai kesal.
 “Ya ampun Indah, kamu bisa tidak datang dengan baik-baik dan gak ngagetin orang, huuuf” Aku mencubit wajah temanku yang memang jahilnya minta ampun.

*** INDAH***
Cewek yang satu ini badannya kecil hampir setinggi aku sih 145 cm. gak peduli tentang cerita cinta tapi kerjaannya ikut campur masalah percintaan orang lain. Banyak orang yang suka kesal melihat tingkah laku gadis yang satu ini, ya termasuk aku yang memang udah kesal terus setiap dia bersamaku. Dan dia ini temanku paling alay kalau udah diajak ngomong.
“Rin, kamu ada cerita tidak?”
“nggak, ga ada”
“ayo dong, katanya kamu lagi suka sama satu kelas kita kan?”
“Ssst, ya ampun anak ini, tau darimana sih” Aku mulai merasa malu saat Indah ngomong keblablasan dengan muka yang sok penasaran itu.
“Huuf, Rin you now I care about you, please tell me who is the man that you like, Oke?”
“Gak usah bicara alay gitu Indah, pokoknya kamu harus jaga rahasia ini OKEY?”,
Of course, I promise” jawab indah dengan rasa ingin tahunya yang meledak-ledak.
                Menceritakan kisah cintaku pada orang yang gak peduli sama cinta, serasa seperti minum teh manis tanpa gula, gak karuan. Tapi sosok Indah yang suka menghibur memberiku sebuah pencerahan, entah darimana dia dapat kata-kata indah dan mampu memukul batinku (gak dipukul beneran) dan membuat mata dan hatiku terbuka.
  “Kamu tahu gak? Berharap sama seseorang bisa saja, tapi adakalanya kamu harus mikirin hal lain yang lebih berguna dari itu disaat kamu mempunyai beberapa pilihan di hidupmu, you have the choice, and you can choose that you want to do”
Sebenarnya pilihan dihidup ini banyak jenisnya, tapi aku terjebak dalam satu lingkaran yang menghentikan langkahku, lupa apa sebenarnya tujuan hidupku, banyak orang mengatakan cinta itu buta, ya sebenarnya benar juga. Aku telah dibutakan oleh cinta, aku tidak bisa melihat arah yang sebenarnya ingin kutuju, langkahku sempat berhenti dan aku terjatuh dalam perasaanku sendiri.
                Give me a Choice, beri aku pilihan yang dapat aku lakukan dari awal untuk memulai lagi ceritaku yang sebenarnya”
Seorang gadis hanya terpaku pada kebohongan cinta, memulai kisah yang berlanjut hingga menyadari arti sebuah cerita cinta yang sesungguhnya bahwa ada yang lebih baik yang sedang menunggu di ujung jalan sana.
Pilihanku untuk melupakan Kevin akhirnya bisa aku lakukan, rasa cinta yang sudah membuatku gila akhirnya hilang dimakan waktu. Lega rasanya melupakan seseorang yang tidak akan pernah tahu bahwa dia menyukaiku atau tidak. “That’s all my story never I forget it, about my love, friendship and heartbreak” (Yerin gadis yang pernah merasakan cinta dalam Diam dan akhirnya tak terbalas)
*******************************END****************************
Note: Cerita ini hanya karangan dan fiktif belaka, tapi sesuai dengan percintaan remaja sekarang yang pernah patah hati. nama dan tempat hanya imajinasi pengarang ya... 





0 komentar:

Posting Komentar

 

Langkah Kehidupan Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang