****AIR MATA TERINDAH****
Hembusan angin
yang lembut membangunkan aku pagi ini, tapi susah buatku tuk beranjak dari
tempat tidurku yang empuk ini.
“Yerin…..
bangun….” Teriak Jessi dari dapur dengan suara parau di pagi hari.
Mendengar suara
bagai gelas pecah itu aku melompat dan bangun dari ke empukan kasur yang sudah
berwarna kusam itu.
“huaammm…
pagi-pagi udah teriak aja… ganggu orang lagi enak mimpi… ” kesalku dengan muka
mayun di depan Jessi. Jessi mulai geleng-geleng kepala setelah mendengar cemohanku
di pagi yang mendung ini. “Hei.. Rin, kamu gak mimpiin dia lagi kan” Tanya
Jessi padaku dengan wajah bingung.
Aku hanya menjawab
dengan muka pura-pura tidak tahu, berjalan ke kamar mandi dengan handuk orange
yang ada di bahuku. Sahabatku yang satu itu hanya bisa menatapku dengan muka
pengen tahu.
***Yerin ***
namaku adalah Yerin. Biasa dipanggil Rin, Sebuah perasaan tak tersampaikan membuat hari-hariku begitu kelabu, kadang masa-mas itu mendebarkan dan juga membuat harapan melayang tinnggi. Aku seorang mahasiswa disebuah kampus di Ibu Kota. Kegiatan sehari-hariku ya kuliah, belajar, nonton dan nongkrong bareng teman, ya seperti hal biasa yang dikerjakan seorang mahasiswa.
***Yerin ***
namaku adalah Yerin. Biasa dipanggil Rin, Sebuah perasaan tak tersampaikan membuat hari-hariku begitu kelabu, kadang masa-mas itu mendebarkan dan juga membuat harapan melayang tinnggi. Aku seorang mahasiswa disebuah kampus di Ibu Kota. Kegiatan sehari-hariku ya kuliah, belajar, nonton dan nongkrong bareng teman, ya seperti hal biasa yang dikerjakan seorang mahasiswa.
Jam sudah menunjukkan bahwa waktunya aku untuk berangkat kuliah.
Dengan bergegas dan menyusun perlengkapan yang akan kubawa, tiba-tiba gerimis
sudah menjadi hujan yang begitu deras, dengan muka cemas aku mengeluarkan
payung pink bergambarkan wajah Doraemon yang bulat kesayanganku. “hmmm.. udah deras nih Rin, gimana kalau kamu naik
angkot aja” ucap Jessi padaku seakan ingin membantu dengan wajahnya yang
memelas. “iya nih… Jes, spertinya aku naik angkot aja, kamu gak ada kuliah kan
hari ini, jadi gantiin aku rapikan kamar ya” dengan wajah memelas aku menatap
Jessi. “Oke, Sip deh! Sana gih, nanti telat loh..” dengan senyumnya yang manis Jessi mengantar
aku berangkat kuliah.
Aku berangkat ke kampus sendiri pagi itu dan meninggalkan jessi di apartement yang nampak berantakan itu. Wajah gadis dengan rambut dicepol itu nampak begitu kusut, Dia bergegas kembali kedalam kamar.
Aku berangkat ke kampus sendiri pagi itu dan meninggalkan jessi di apartement yang nampak berantakan itu. Wajah gadis dengan rambut dicepol itu nampak begitu kusut, Dia bergegas kembali kedalam kamar.
Di Halte….
Beberapa menit aku menunggu angkot yang tak kunjung datang, aku mulai
mengusap-usap kedua tanganku karena dinginnya hujan mulai terasa menggelitik tubuhku. Berharap cemas aku melirik kiri kananku, memastikan apakah ada angkot
atau apapun yang muncul. Tiba-tiba aku dikejutkan sepeda motor yang berhenti di
depanku. Aku terkejut ketika melihat seseorang turun dari sepeda motor itu
dengan jas hujan yang sudah basah kuyup. “Kevin…”seruku degan suara terkejut.
***Kevin ***
Anak laki-laki
dengan gaya rambut tertata rapi dan kulit nya yang bersih, sifatnya yang jutek
dan cuek inilah yang membuat jantungku akan berdegup kencang saat bertemu
dengannya. Badannya yang tinggi dan otaknya yang lumayan cerdas mampu membuatku
takkan berhenti menatapnya dan memikirkannya.
“Uhummm…..” aku terkejut dengan suara deheman Kevin. Tapi aku tidak
bisa katakan satu katapun, aku tidak tahu aku akan mulai dari mana dan membahas
apa. Degup jantungku berdetak makin cepat seakan rasanya aku akan jatuh
pingsan.
“hey… kamu kenapa sih? Apa cuacanya begitu dingin, kok gemetaran
gitu?” tiba-tiba saja Kevin diam membatu di depan mataku. “Ah…hahaha iya nih, hujan
nya juga deras banget” jawabku dengan wajah tersipu.
Tetes air hujan tak lagi jatuh dari langit, dan awan mulai muncul, seketika
langit menjadi cerah. Aku melangkahkan kakiku untuk menghampiri angkot yang
sudah mulai tampak dari halte. Aku melihat Kevin yang sudah memakai helm dan
menaiki sepeda motornya, dan berharap dia melihat balik kearahku. Tapi
sepedamotor itu sudah terlanjur berjalan dengan laju yang begitu cepat.
“huuuf… ”aku hanya bisa menghela napas saja sambil naik angkot yang
sudah banyak penumpang itu, bagaimana bisa dia dengan dinginnya meninggalkan diriku tanpa sepatah kata.
Di kampus…
Aku berlari
menuju kelas, berharap kali ini aku gak akan telat. Saat aku akan masuk kelas
tampak dua orang berjalan dari depanku dengan canda tawa yang bahagia. Ah…itu
Kevin dan Dwi, mereka asyik ngobrol dan melewati aku yang diam terpaku sambil berdiri
menatap mereka dengan muka bodohku.
“Hey!! Rin….”
Hentakan suara
Evelin mengejutkan ku “aih… kamu ni Lin… slalu aja buat aku hampir mati
terkejut..” cetusku menjitak Evelin dan menariknya masuk kedalam kelas.
“hey… kamu
kenapa? Lagi gak enak badan ya?”Tanya Evelin dengan muka cemas.
“ga tau nih…
tiba-tiba aja aku gak ada mood buat
belajar..” jawabku dengan muka lemas.
Saat aku masih terbawa perasaan yang hampir membunuhku, Kelas
tiba-tiba bagai kapal pecah.
“Rik …. Sini….
Cepat!” Vendra memanggil Rika dari depan pintu ruangan.
Ya… Vendra dan Rika adalah pasangan yang gak ada bosannya gosipin
orang yang lagi PDKT lah, soal gebetan orang, cinlok, dan yang berbaur dengan
sebuah hubungan percintaan orang lain. Kali ini aku gak tinggal diam, aku
mengikuti Rika dari belakang. Wah...salah satu pemandangan terhebat dari kelas
ini, hampir setengah dari kami yang sudah siap siaga ditempat buat ngedengerin omongan hangat
dari pasangan penggosip ini.
“kali ini kamu punya berita apa lagi Ndra” Ekhsan
mulai penasaran.
“iya… cepat
dong… keburu dosen datang” anak-anak lain juga udah gak sabar nungguin berita
terhangat dihari ini. Aku hanya duduk diantara mereka sambil senyum manyun
dengan muka polos slayaknya seorang anak kecil yang ingin mendengar cerita dongeng dari
ibunya.
Rika sudah
mengambil posisi nyaman buat bercerita. Ruangan mulai terhanyut dengan gerak-gerik
dari Vendra dan Rika.
“tau gak sih?” Rika membuka pembicaraan, “GAK TAU LAH… ikh…” anak-anak
yang udah penasaran udah gak sabar dengan cerita dari Rika dan Vendra.
“Gini… aku dengar-dengar sih, katanya Kevin lagi dekat sama seseorang
lo?” Vendra bercerita dengan semangat. Aku tiba-tiba terkejut, dan aku mulai
penasaran. “lalu..? sama siapa dia dekat? ”cetus Mitha dengan wajah penasaran
juga.
“yang aku tahu dia lagi dekat sama cewek jurusan Sastra yang bernama
Dwi… aku gak yakin ini benar atau nggak, ya… siapa diantara kalian yang suka sama
Kevin, jujur aja mulai dari sekarang, HAHAHHAHA” Rika dan Vendra senyam-senyum
melihat muka anak-anak perempuan yang
sudah penasaran apa cerita Vendra dan Rika itu benar atau hanya gossip bohongan
saja.
Entah mengapa aku ingin meneteskan air mata, aku terbangun dari
duduk ku dan meninggalkan ruangan menuju tempat yang sepi. Aku duduk di bawah
pohon yang penuh dengan dedaunan yang jatuh dari rantingnya, berpikir keras dan
berharap bahwa ucapan Rika dan Vendra itu hanya bohongan belaka saja. Evelin berlari
mengikutiku ketaman. Dia merangkulku dan mengusap usap bahuku seakan dia sudah
tahu apa yang sedang kurasakan.
Ya… memang aku hanya
bercerita pada Evelin dan Jessi saja bahwa aku sangat menyukai Kevin dari awal
masuk kampus sampai aku semester 4 sekarang. Pertama kali aku mengenal Kevin, saat
itulah aku mulai tertarik padanya. saat dia banyak membantuku menyelesaikan
tugas-tugas kuliah, dan bercanda dengan Dia. Tapi Kevin gak pernah tahu
bagaimana sebenarnya perasaanku padanya. Pernah Kevin selalu menatapku dan
selalu mengganguku saat aku sedang sibuk, aku bepikir bahwa Kevin memiliki
perasaan yang sama denganku, dan sampai sekarang aku selalu menunggu Kevin mengatakan sesuatu padaku.
Aku selalu berharap padanya dan tak sekalipun aku memandang anak
laki-laki lain selain dia. Dan saat itu aku dalam masa penantian.
Dadaku serasa sesak dan aku mulai menangis mengeluarkan semua
kepedihan yang kurasakan. Ingin aku berteriak dan melepas semua perasaan yang
selama ini sia-sia kupendam dan kujaga.
Evelin mendekapku dalam pelukannya. Sahabatku yang satu ini selalu
menjagaku dan memberiku dukungan ketika aku ingin membuang perasaanku selama
ini pada Kevin. Aku selalu percaya suatu saat Kevin akan membalas perasaanku,
tapi kenyataannya tidak.
Aku mulai menghentikan kesedihanku dan duduk dengan tenang disamping
Evelin. Kutatap langit biru dan kupejamkan mataku di iringi hembusan angin yang
membuat dadaku yang sesak tenang kembali. Evelin memegang erat tanganku dan
berkata “Yerin… gak apa-apa kamu sudah berjuang menjaga perasaanmu untuk dia
selama ini, gak apa-apa kamu selalu memandangi dia dari kejauhan berharap dia
melihatmu, gak apa-apa kamu selalu melakukan yang terbaik buta dekat sama
dia…..” Evelin mulai ikutan menangis dan sesekali mengusap air matanya. “dan kamu gak perlu takut
buat jujur padanya, bahwa kamu sangat menyukainya. katakanlah dengan jujur
padanya… dan jika memang dia tidak ada rasa padamu.. saat itulah kamu harus
hilangin harapanmu untuk balasan cintanya… dan kamu gak akan sakit hati
selamanya” tutur Evelin membelai poni yang menutupi mataku yang berair.
Aku memeluk sahabatku itu dan benar-benar bersyukur dia selalu ada
buatku. Selalu menemani aku saat aku benar-benar butuh dia. Aku gak bisa
katakan apapun selain membalasnya dengan air mata terindah yang menetes dari
mataku ini.
===================================================================
***GIVE ME A CHOICE***
“yuhuu……”
sorakan anak-anak yang lagi nonton pertandingan futsal di lapangan merusak
konsentrasiku yang sedang asyiknya membaca komik Doraemon kesukaanku. Aku berjalan menuju lapangan futsal yang sudah
penuh dengan banyak mahasiswa bersorak-sorak memberi dukungan ke pemain, aku
melihat Evelin sedang duduk dengan sorakan yang begitu heboh.
“hey… Rin, kamu darimana aja sih… orang pada ngumpul
disini…kamunya malah gak nampak” cetus Evelin sambil menarik aku duduk di
sampingnya. “Eh.. ini pertandingan Futsal , kamu kenal siapa aja pemainnya?
Soalnya sorakanmu heboh banget…”aku mulai bertanya kepada Evelin dengan wajah
lugu yang kupunya. Evelin membalas nya
dengan senyuman sinisnya “ya ampun… gak mungkin cewek secantik aku gak tahu
siapa aja cowok keren yang bisa main futsal… apalagi seperti dia” Evelin
menunjuk cowok yang familiar dengan gaya dan bentuk tubuh yang bisa membuat
semua cewek di kampus ini bakal mati terpana. Ya.. dia adalah Reyhan.
***Reyhan***
Cowok yang satu
ini bisa dibilang keren dan cool banget. Habisnya semua yang berbaur tentang
dia akan buat semua cewek penasaran. Senyum manis, dan sifatnya yang pendiam
dan sedikit cuek ini mampu mematahkan banyak hati wanita. Ya walaupun gak
denganku, yang belum bisa melupakan cinta pertamaku yaitu Kevin.
“Ehemm… hey Rin,
napa? Kamu tertarik gak sama dia” suara Evelin membangunkanku dari hayalanku.
“Gak ah… ”dengan
senyum kecil aku membalas pertanyaan sahabatku itu. Aku gak bisa bilang kalau
aku masih belum bisa melupakan Kevin. Aku dan Evelin mulai beranjak dari tempat
duduk kami, gak sadar bahwa didepan ku berdiri seorang cowok dengan badan yang lebih
tinggi dari aku. “ah…!!!” tiba-tiba Evelin terkejut sambil mencubit kecil
tanganku dan melirikku. Aku langsung saja menatap Evelin yang sudah senyum
panik, dan saat itu aku menoleh ke orang yang didepanku dan ternyata itu adalah Kevin. “ha..hai… ” Kevin menyapa kami dengan wajahnya yang begitu hangat. Jantungku
mulai berdegup kencang lagi, aku mulai gerogi dan entah kenapa aku gak akan pernah
bisa membuang Kevin dari pikiranku.
“ah, hai Dik… maaf ya kami buru-buru nih… ada sesuatu yang harus
kami kerjakan ” Evelin kemudian menarikku menjauh dari Kevin, aku tahu Evelin
gak mau melihat aku berharap lagi pada Kevin. Entah kenapa aku gak tega
ninggalin Kevin yang berdiri menatap serius kearahku. “Rin… kamu masih suka gak sama Kevin?” Evelin menghentikan langkahnya dan berbalik kearahku.
“kamu masih gak bisa kan lupain dia?” pertanyaan Evelin membuat dadaku terasa sakit, aku gak bisa bohong dan juga gak bisa jujur padanya. “Evelin yang cantik… sahabatku baik, aku gak bisa jawab pertanyaanmu sekarang, aku lagi berusaha untuk gak mikirin Kevin” aku menatap Evelin dan berusaha membuat dia gak penasaran lagi tentang Kevin. “huuufff… Yerin.. maaf ya aku mungkin terlalu penasaran, soalnya kamu gak bisa terus-terusan di PHP –in sama Dia” dengan cemberut Evelin merangkulku dan membawaku menuju kantin.
Melupakan seseorang yang
benar-benar dicintai mungkin tak semudah yang semua orang pikirkan yaitu lupakan dia , jangan pernah bertemu dia
dimanapun. Itu sama sekali tidak membantu dalam kisah cintaku.
Aku memasuki
ruang kelas. Belum aku mulai melangkah Kevin muncul di depanku. Seperti biasa Kevin selalu menyapa dengan kata-kata aneh atau apapun yang membuat orang kadang
jengkel dan tertawa.
‘Hai Rin’, Kevin menghampiriku.
“Ah, hai juga
Dik” jantungku serasa copot bisa -bisa aku gagal jantung ini.
Belum sempat Kevin melanjutkan kata-katanya Evelin datang menghampiriku dan menarikku dari
hadapan Kevin. Kevin hanya diam tak bisa berkata melihat tingkah Evelin yang
menghampiriku dengan muka marah.
“Rin, kenapa sih
kau tetap saja berurusan sama si Kevin itu?, udah gak peka sama perasaanmu, kamu
malah nyakitin dirimu sendiri tau”.
“Bukan begitu Lin, gak mungkin kan aku cuekin dia yang hanya sekedar
menyapa saja? Tenang aja aku udah bisa lupain dia kok” Aku merangkul Evelin
menenangkan hatinya yang dari tadi kesal dengan raut wajah merah penuh amarah itu.
Musik mengalun lambat di telingaku, membuat hatiku merasa sepi. Aku
mulai menarik napas dalam, dan tiba-tiba Indah mengejutkanku.
“Hoi, lagi ngapain Rin?” dengan cengengesan dia membuatku mulai
kesal.
“Ya ampun Indah, kamu bisa
tidak datang dengan baik-baik dan gak ngagetin orang, huuuf” Aku mencubit wajah temanku
yang memang jahilnya minta ampun.
*** INDAH***
Cewek yang
satu ini badannya kecil hampir setinggi aku sih 145 cm. gak peduli tentang
cerita cinta tapi kerjaannya ikut campur masalah percintaan orang lain. Banyak
orang yang suka kesal melihat tingkah laku gadis yang satu ini, ya termasuk aku
yang memang udah kesal terus setiap dia bersamaku. Dan dia ini temanku paling
alay kalau udah diajak ngomong.
“Rin, kamu ada cerita
tidak?”
“nggak, ga ada”
“ayo dong, katanya kamu
lagi suka sama satu kelas kita kan?”
“Ssst, ya
ampun anak ini, tau darimana sih” Aku mulai merasa malu saat Indah ngomong
keblablasan dengan muka yang sok penasaran itu.
“Huuf, Rin
you now I care about you, please tell me
who is the man that you like, Oke?”
“Gak usah
bicara alay gitu Indah, pokoknya kamu harus jaga rahasia ini OKEY?”,
“Of course, I promise” jawab indah dengan
rasa ingin tahunya yang meledak-ledak.
Menceritakan
kisah cintaku pada orang yang gak peduli sama cinta, serasa seperti minum teh
manis tanpa gula, gak karuan. Tapi sosok Indah yang suka menghibur memberiku
sebuah pencerahan, entah darimana dia dapat kata-kata indah dan mampu memukul
batinku (gak dipukul beneran) dan membuat mata dan hatiku terbuka.
“Kamu tahu gak? Berharap
sama seseorang bisa saja, tapi adakalanya kamu harus mikirin hal lain yang
lebih berguna dari itu disaat kamu mempunyai beberapa pilihan di hidupmu, you have the choice, and you can choose that
you want to do”
Sebenarnya pilihan dihidup ini banyak jenisnya, tapi
aku terjebak dalam satu lingkaran yang menghentikan langkahku, lupa apa
sebenarnya tujuan hidupku, banyak orang mengatakan cinta itu buta, ya
sebenarnya benar juga. Aku telah dibutakan oleh cinta, aku tidak bisa melihat
arah yang sebenarnya ingin kutuju, langkahku sempat berhenti dan aku terjatuh
dalam perasaanku sendiri.
“Give me a Choice, beri aku pilihan yang dapat aku lakukan dari awal
untuk memulai lagi ceritaku yang sebenarnya”
Seorang gadis hanya terpaku pada kebohongan cinta, memulai kisah
yang berlanjut hingga menyadari arti sebuah cerita cinta yang sesungguhnya
bahwa ada yang lebih baik yang sedang menunggu di ujung jalan sana.
Pilihanku untuk melupakan Kevin akhirnya bisa aku lakukan, rasa cinta
yang sudah membuatku gila akhirnya hilang dimakan waktu. Lega rasanya melupakan
seseorang yang tidak akan pernah tahu bahwa dia menyukaiku atau tidak. “That’s all my story never I forget it, about
my love, friendship and heartbreak” (Yerin gadis yang pernah merasakan cinta dalam Diam dan akhirnya tak terbalas)
*******************************END****************************
Note: Cerita ini hanya karangan dan fiktif belaka, tapi sesuai dengan percintaan remaja sekarang yang pernah patah hati. nama dan tempat hanya imajinasi pengarang ya...
Note: Cerita ini hanya karangan dan fiktif belaka, tapi sesuai dengan percintaan remaja sekarang yang pernah patah hati. nama dan tempat hanya imajinasi pengarang ya...


0 komentar:
Posting Komentar